semangat belajar adalah penentu kesuksesan............jangan mau berhenti dalam menempuh ilmu..........
Selasa, 31 Mei 2011
Larangan Sombong dalam Islam
Suatu hari mungkin kita menemui suatu kemudahan dalam urusan kita. Orang lain bertanya kepada kita bagaimana cara anda menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan lantang dan bangganya anda menjawab "Siapa dulu. Ini semua berkat usaha keras saya."
Nah, dari contoh di atas kita sering membanggakan diri kita, dan merendahkan orang lain yang kita anggap di bawah kita kedudukannya. Atau mungkin merasa memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain. Sehingga mengejek atau bahkan merendahkan martabat orang lain. Na'udzubillah
Kita tidak mengetahui siapa zat yang memudahkan urusan kita hingga berhasil seperti itu. Kita tidak menyadari, bagaimana seandainya kemudahan itu tiba-tiba hilang saat kita sedang membanggakannya. Atau mungkin saat itu nyawa kita dicabut sehingga kita menjadi orang yang merugi karena mati dalam keadaan su'ul khatimah (mati dalam keburukan)?
Disinilah, saya berusaha membahas mengenai larangan sombong dalam Islam. Sampai-sampai Rosulullah saw sendiri sangat membenci orang-orang yang sombong. Mari kita simak ulasan berikut.
Pengertian
Sombong adalah membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya yang lebih dari yang lain. Membuat dirinya terasa lebih berharga dan bermartabat sehingga dabat menjelekkan orang lain. Padahal Allah telah melarang kita dalam QS. Al Luqman {31}:18
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri"
Sementara itu ada sebuah teladan yang di ambil dari Adz Dzahabi
Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, sungguh ini tergolong kesobongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah (anak semut), la haula wa la quwwata illa billah.”
Jangan Sombong
Eits.. tunggu dulu. Kita ingin selamat dunia ataukah dunia-akhirat. Sebab, kita tentu masih punya kewibawaan meskipun sikap kita tidak berbanggga-bangga diri. Bahkan orang lain akan lebih menghargai dan menghormati kita karena kita menghargai orang lain. Bahkan Allah menantang kita dalam QS. Al Isra’ {17}:37
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
Wah, tentu kita keberatan bila kita disuruh menembus bumi dan tinggi badan kita tidak dapat menyamai gunung-gunung yang ada di Bumi. Bagaimana caranya? Terkadang untuk melakukan sesuatu kita juga butuh orang lain. Meskipun kita berkuasa, toh ujungnya kita memerintahkan orang lain berbuat sesuati. Bukankah begitu? Begitu saja kok sombong?
Oleh karena itu. seharusnya kita tidak boleh sombong. Hargai orang lain dan perdulikan nasib orang lain. Sebenarnya ini merupakan pelajaran bagi kita khususnya pemimpin-pemimpin negeri ini. Jangan sampai mengorbankan rakyat hanya untuk keperluan pribadi.
Ingatlah, kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Tuhan semesta
alam. Siapkah kita?
Wallahi bish showab.***
Kamis, 26 Mei 2011
Hikmah Sabar & Bersyukur
Syukur dan sabar adalah kunci bagi meningkatnya keimanan akan Allah Swt, dalam diri seseorang. Berbagai sarana telah disediakan bagi tumbuhnya rasa syukur dan sabar dalam diri, seperti bersikap menyerahkan segala sesuatu dan merasa ridha pada ketentuan Allah baik kenikmatan ataupun ujian, bertafakur terhadap berlikunya nilai hikmah, evaluasi diri dan melihat dari dekat ujian yang ditimpakan, tuntutan menyempurnakan ikhtiar, husnudzhan kepada Allah dan lain-lain.
Syukur dan sabar juga merupakan sarana meningkatkan kualitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah Swt. Seseorang yang pandai bersyukur akan senantiasa bertahtakan kesabaran, meski berada dalam ujian penderitaan.
Apapun yang kemudian mereka dapatkan, mereka kembalikan kepada yang memberikan semua itu, Allah Swt. Dan Allah Swt. Sendiri memberi tanda kepada golongan orang-orang seperti ini, sebagaimana firman-Nya: "(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'Inna lillaahi wa Inna Ilaihi Raaji'uun'" (Al-Baqoroh [2]:156).
Semoga sahabat senantiasa sabar dalam berbagai ujian hidup yang sedang dihadapi dan bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan.
Wallahu a'lam bish showab.
NB:
"Syukur dan sabar juga merupakan sarana meningkatkan kualitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah Swt. "
Syukur dan sabar juga merupakan sarana meningkatkan kualitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah Swt. Seseorang yang pandai bersyukur akan senantiasa bertahtakan kesabaran, meski berada dalam ujian penderitaan.
Apapun yang kemudian mereka dapatkan, mereka kembalikan kepada yang memberikan semua itu, Allah Swt. Dan Allah Swt. Sendiri memberi tanda kepada golongan orang-orang seperti ini, sebagaimana firman-Nya: "(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'Inna lillaahi wa Inna Ilaihi Raaji'uun'" (Al-Baqoroh [2]:156).
Semoga sahabat senantiasa sabar dalam berbagai ujian hidup yang sedang dihadapi dan bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan.
Wallahu a'lam bish showab.
NB:
"Syukur dan sabar juga merupakan sarana meningkatkan kualitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah Swt. "
MUTIARA HIKMAH
MUTIARA HIKMAH
* Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian , kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran . [Q.S. Al-‘Ashr: 1-3]
* Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu , dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu ; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS Al-Baqarah: 216]
* Hiduplah sesukamu tapi engkau pasti mati ; berbuatlah sesukamu tapi pasti engkau dibalas (menurut perbuatanmu itu); cintailah siapa saja tapi engkau pasti akan berpisah dengannya. [Nasihat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW – Sahl bin Said]
* Barang siapa bersholat dalam sehari-harinya duabelas rekaat maka dibangunlah untuknya sebuah rumah di surga ; yaitu empat rekaat sebelum Dhuhur, dua rekaat sesudahnya, dua rekaat sesudah Maghrib, dua rekaat sesudah Isya’ dan dua rekaat sebelum shalat Fajar. [HR. Turmudzi]
* Kita cela zaman ini, padahal cela ada pada kita . Tak ada cela pada zaman kita selain dari diri kita. Kita hina zaman yang tak berdosa. Andai zaman ini berbicara ia akan menghina kita. [Imam Syafi'i]
* Nikahilah wanita karena 4 perkara: karena harta bendanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Utamakanlah wanita yang taat kepada agamanya , niscaya kamu akan bahagia . [HR. Abu Hurairah ra.]
* Ingat 5 perkara sebelum datang 5 perkara:
1. Sehat sebelum sakit;
2. Muda sebelum tua;
3. Kaya sebelum miskin;
4. Lapang sebelum sempit;
5. Hidup sebelum Mati. [Hadist]
* Alloh seperti apa yang diprasangkakan manusia kepada-Nya. [Hadist Qudsi]
* Kami dapat merasakan kenikmatan dalam hidup, ketika kami mampu bersabar . [Umar bin Khaththab ra.]
* Barang siapa mengenal sesuatu tapi tidak mengenal Alloh , seolah-olah ia tidak tahu apa-apa . [Ali bin Abu Tholib ra.]
* Aku tidak peduli keadaan susah dan senangku . Karena aku tak tahu, manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku. [Umar bin Khatab ra.]
* Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya. [Anonim]
* Dalam hidup ini hendaknya kita mengejar yang pasti (masa depan sesudah mati) tanpa mengabaikan yang mungkin (masa depan sebelum mati). Ibarat jika menanam padi kita akan mendapat padi dan rumput, sedangkan jika menanam rumput, belum tentu kita mendapat rumput, apalagi padi. [Anonim]
* Berusahalah memahami orang lain dengan menempatkan diri kita sendiri pada posisi orang yang bersangkutan –> Teknik Empati. [Anonim]
* Proyeksikanlah kegiatan-kegiatan kita dalam rencana-rencana , karena gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan . [Anonim]
* Beritahu aku siapa temanmu , akan kuberitahu siapa dirimu ! [Anonim]
* Orang sukses mempunyai kebiasaan mengerjakan hal-hal yang tidak dikerjakan oleh orang-orang gagal. Mereka (orang-orang sukses) belum tentu suka mengerjakannya. Namun ketidaksukaan mereka tunduk pada kekuatan tujuan mereka. [Stephen Covey dalam The 7 Habits ]
Orang yang sangat pandai memuji juga sama pandainya jika mengolok-olok . [Anonim]
* Janganlah kita melihat tokoh dalam mencari kebenaran, tetapi selamilah kebenaran itu sendiri niscaya kita akan mengetahui siapa tokoh di baliknya. [Anonim]
* Jangan biasakan berprasangka, sebab sebagian besar prasangka adalah dusta . [Anonim]
* Dalam berusaha lihatlah orang yang nasibnya lebih bagus dari kita (orang di atas kita), namun dalam hasil lihatlah orang yang nasibnya lebih buruk dari kita (orang di bawah kita). [Anonim]
* Aku telah belajar untuk diam dari orang yang banyak omong , belajar toleran dari orang yang tidak toleran , dan belajar menjadi ramah dari orang yang tak ramah ; namun, sungguh aneh, aku tak berterima kasih pada orang-orang ini. [Anonim]
* Siapa orang yang dikatakan teguh hati ? Yaitu orang yang memelihara apa yang dimiliki dan tidak menunda kesibukan hari ini pada hari esok [Anonim]
* Balas dendam itu buruk, kecuali “balas dendam” mengejar ketertinggalan Anda. [Anonim]
* Cara yang paling baik untuk menghadapi masa depan adalah melaksanakan semua pekerjaan yang Anda hadapi sekarang ini dengan seluruh tenaga, semangat, dan kecakapan (keahlian) sesempurna-sempurnanya. [Anonim]
* Jangan percaya dengan keberuntungan Anda, percaya dengan usaha Anda. [Anonim]
* Jangan tunggu termotivasi baru berbuat. Berbuatlah! Niscaya Anda termotivasi. [Anonim]
* Belajarlah dari tubuh Anda sendiri yang terus tumbuh berkembang tanpa ada yang mampu menghalangi. [Anonim]
* Kegagalan dapat dibagi menjadi 2 sebab. Yakni, orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir . [Anonim]
* Abu ‘aliyah menyiapkan kain kaffan untuk dirinya sebagai persiapan menghadapi hari akhir . Dan ia memakai kain kaffannya sebulan sekali kemudian ia kembali bekerja.
* Saya tidak tahu kunci sukses, tetapi kunci kegagalan adalah mencoba menyenangkan setiap orang . [Anonim]
* Kapal di pelabuhan adalah aman , tetapi bukan itu maksud kapal dibuat . [Anonim]
* Terlalu lama hanyut dalam kejenuhan berarti terlalu lama hanyut dalam kubangan kegagalan . [Anonim]
* Anda punya gagasan cemerlang. Namun jika Anda tidak dapat menyampaikan gagasan , gagasan Anda tidak akan beranjak kemanapun. [Anonim]
* Perbedaan semangat dan tergesa-gesa amat tipis. Semangat memiliki rencana , tergesa-gesa tidak. [Anonim]
* Tangkal semua kebathilan dengan SHOLAT. Inilah perintah yang diterima Rasulullah saw. langsung dari Alloh swt. ketika beliau melakukan mi’roj. Dengan Sholat diharapkan kita dapat melakukan olah rasa, olah rasio, dan olah raga sekaligus. [Anonim]
* Tipe/jenis manusia dilihat caranya beribadah kepada Alloh swt.:
1. Tipe pedagang , yaitu orang yang melakukan sesuatu demi memperoleh imbalan yang menyenangkan. Temasuk dalam kategori ini adalah orang yang taat kepada Alloh karena mengharapkan di akhirat kelak akan dimasukkan ke surga ;
2. Tipe budak , yaitu seseorang yang takut kepada majikannya. Ia taat kepada Alloh karena dorongan takut siksa neraka ;
3. Tipe robot , yaitu orang yang melakukan ibadah secara otomatis tanpa pemikiran dan penghayatan ;
4. Tipe orang arif , yaitu orang yang beribadah sebagai balas jasa karena menyadari betapa besar anugerah Alloh yang telah diterima. (ibadah sebagai rasa syukur) .
* Penghargaan akan diberikan oleh Allah SWT, kepada hamba-hambanya yang berbuat bukan kepada yang mendengar ataupun yang mendengar, dan rugilah bagi mereka yang mengetahui tetapi tidak berbuat. (Anonim).
* Dua Rakaat Fajar (shalat sunah sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya. HR. Muslim.
* Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.
* Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."
* Abu Laits as-Samarqandi berkata kalau seseorang itu hendak selamat dari siksa kubur hendaklah melazimkan empat perkara semuanya :-
1.Hendaklah ia menjaga solatnya
2.Hendaklah dia bersedekah
3.Hendaklah dia membaca al-Qur'an
4.Hendaklah dia memperbanyakkan membaca tasbih kerana dengan memperbanyakkan membaca tasbih, ia akan dapat menyinari kubur dan melapangkannya.
Adapun empat perkara yang harus dijauhi ialah :-
1.Jangan berdusta
2.Jangan mengkhianat
3.Jangan mengadu-domba (jangan suka mencucuk sana cucuk sini)
4.Jangan kencing sambil berdiri
* Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian , kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran . [Q.S. Al-‘Ashr: 1-3]
* Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu , dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu ; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS Al-Baqarah: 216]
* Hiduplah sesukamu tapi engkau pasti mati ; berbuatlah sesukamu tapi pasti engkau dibalas (menurut perbuatanmu itu); cintailah siapa saja tapi engkau pasti akan berpisah dengannya. [Nasihat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW – Sahl bin Said]
* Barang siapa bersholat dalam sehari-harinya duabelas rekaat maka dibangunlah untuknya sebuah rumah di surga ; yaitu empat rekaat sebelum Dhuhur, dua rekaat sesudahnya, dua rekaat sesudah Maghrib, dua rekaat sesudah Isya’ dan dua rekaat sebelum shalat Fajar. [HR. Turmudzi]
* Kita cela zaman ini, padahal cela ada pada kita . Tak ada cela pada zaman kita selain dari diri kita. Kita hina zaman yang tak berdosa. Andai zaman ini berbicara ia akan menghina kita. [Imam Syafi'i]
* Nikahilah wanita karena 4 perkara: karena harta bendanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Utamakanlah wanita yang taat kepada agamanya , niscaya kamu akan bahagia . [HR. Abu Hurairah ra.]
* Ingat 5 perkara sebelum datang 5 perkara:
1. Sehat sebelum sakit;
2. Muda sebelum tua;
3. Kaya sebelum miskin;
4. Lapang sebelum sempit;
5. Hidup sebelum Mati. [Hadist]
* Alloh seperti apa yang diprasangkakan manusia kepada-Nya. [Hadist Qudsi]
* Kami dapat merasakan kenikmatan dalam hidup, ketika kami mampu bersabar . [Umar bin Khaththab ra.]
* Barang siapa mengenal sesuatu tapi tidak mengenal Alloh , seolah-olah ia tidak tahu apa-apa . [Ali bin Abu Tholib ra.]
* Aku tidak peduli keadaan susah dan senangku . Karena aku tak tahu, manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku. [Umar bin Khatab ra.]
* Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya. [Anonim]
* Dalam hidup ini hendaknya kita mengejar yang pasti (masa depan sesudah mati) tanpa mengabaikan yang mungkin (masa depan sebelum mati). Ibarat jika menanam padi kita akan mendapat padi dan rumput, sedangkan jika menanam rumput, belum tentu kita mendapat rumput, apalagi padi. [Anonim]
* Berusahalah memahami orang lain dengan menempatkan diri kita sendiri pada posisi orang yang bersangkutan –> Teknik Empati. [Anonim]
* Proyeksikanlah kegiatan-kegiatan kita dalam rencana-rencana , karena gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan . [Anonim]
* Beritahu aku siapa temanmu , akan kuberitahu siapa dirimu ! [Anonim]
* Orang sukses mempunyai kebiasaan mengerjakan hal-hal yang tidak dikerjakan oleh orang-orang gagal. Mereka (orang-orang sukses) belum tentu suka mengerjakannya. Namun ketidaksukaan mereka tunduk pada kekuatan tujuan mereka. [Stephen Covey dalam The 7 Habits ]
Orang yang sangat pandai memuji juga sama pandainya jika mengolok-olok . [Anonim]
* Janganlah kita melihat tokoh dalam mencari kebenaran, tetapi selamilah kebenaran itu sendiri niscaya kita akan mengetahui siapa tokoh di baliknya. [Anonim]
* Jangan biasakan berprasangka, sebab sebagian besar prasangka adalah dusta . [Anonim]
* Dalam berusaha lihatlah orang yang nasibnya lebih bagus dari kita (orang di atas kita), namun dalam hasil lihatlah orang yang nasibnya lebih buruk dari kita (orang di bawah kita). [Anonim]
* Aku telah belajar untuk diam dari orang yang banyak omong , belajar toleran dari orang yang tidak toleran , dan belajar menjadi ramah dari orang yang tak ramah ; namun, sungguh aneh, aku tak berterima kasih pada orang-orang ini. [Anonim]
* Siapa orang yang dikatakan teguh hati ? Yaitu orang yang memelihara apa yang dimiliki dan tidak menunda kesibukan hari ini pada hari esok [Anonim]
* Balas dendam itu buruk, kecuali “balas dendam” mengejar ketertinggalan Anda. [Anonim]
* Cara yang paling baik untuk menghadapi masa depan adalah melaksanakan semua pekerjaan yang Anda hadapi sekarang ini dengan seluruh tenaga, semangat, dan kecakapan (keahlian) sesempurna-sempurnanya. [Anonim]
* Jangan percaya dengan keberuntungan Anda, percaya dengan usaha Anda. [Anonim]
* Jangan tunggu termotivasi baru berbuat. Berbuatlah! Niscaya Anda termotivasi. [Anonim]
* Belajarlah dari tubuh Anda sendiri yang terus tumbuh berkembang tanpa ada yang mampu menghalangi. [Anonim]
* Kegagalan dapat dibagi menjadi 2 sebab. Yakni, orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir . [Anonim]
* Abu ‘aliyah menyiapkan kain kaffan untuk dirinya sebagai persiapan menghadapi hari akhir . Dan ia memakai kain kaffannya sebulan sekali kemudian ia kembali bekerja.
* Saya tidak tahu kunci sukses, tetapi kunci kegagalan adalah mencoba menyenangkan setiap orang . [Anonim]
* Kapal di pelabuhan adalah aman , tetapi bukan itu maksud kapal dibuat . [Anonim]
* Terlalu lama hanyut dalam kejenuhan berarti terlalu lama hanyut dalam kubangan kegagalan . [Anonim]
* Anda punya gagasan cemerlang. Namun jika Anda tidak dapat menyampaikan gagasan , gagasan Anda tidak akan beranjak kemanapun. [Anonim]
* Perbedaan semangat dan tergesa-gesa amat tipis. Semangat memiliki rencana , tergesa-gesa tidak. [Anonim]
* Tangkal semua kebathilan dengan SHOLAT. Inilah perintah yang diterima Rasulullah saw. langsung dari Alloh swt. ketika beliau melakukan mi’roj. Dengan Sholat diharapkan kita dapat melakukan olah rasa, olah rasio, dan olah raga sekaligus. [Anonim]
* Tipe/jenis manusia dilihat caranya beribadah kepada Alloh swt.:
1. Tipe pedagang , yaitu orang yang melakukan sesuatu demi memperoleh imbalan yang menyenangkan. Temasuk dalam kategori ini adalah orang yang taat kepada Alloh karena mengharapkan di akhirat kelak akan dimasukkan ke surga ;
2. Tipe budak , yaitu seseorang yang takut kepada majikannya. Ia taat kepada Alloh karena dorongan takut siksa neraka ;
3. Tipe robot , yaitu orang yang melakukan ibadah secara otomatis tanpa pemikiran dan penghayatan ;
4. Tipe orang arif , yaitu orang yang beribadah sebagai balas jasa karena menyadari betapa besar anugerah Alloh yang telah diterima. (ibadah sebagai rasa syukur) .
* Penghargaan akan diberikan oleh Allah SWT, kepada hamba-hambanya yang berbuat bukan kepada yang mendengar ataupun yang mendengar, dan rugilah bagi mereka yang mengetahui tetapi tidak berbuat. (Anonim).
* Dua Rakaat Fajar (shalat sunah sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya. HR. Muslim.
* Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.
* Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."
* Abu Laits as-Samarqandi berkata kalau seseorang itu hendak selamat dari siksa kubur hendaklah melazimkan empat perkara semuanya :-
1.Hendaklah ia menjaga solatnya
2.Hendaklah dia bersedekah
3.Hendaklah dia membaca al-Qur'an
4.Hendaklah dia memperbanyakkan membaca tasbih kerana dengan memperbanyakkan membaca tasbih, ia akan dapat menyinari kubur dan melapangkannya.
Adapun empat perkara yang harus dijauhi ialah :-
1.Jangan berdusta
2.Jangan mengkhianat
3.Jangan mengadu-domba (jangan suka mencucuk sana cucuk sini)
4.Jangan kencing sambil berdiri
Hikmah Sabar Menghadapi Ujian dan Musibah
Hikmah Sabar Menghadapi Ujian dan Musibah
Di dalam surah al-Mulk, ALlah menyatakan bahawa Dia menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia siapakah di kalangan manusia paling baik amalnya. Dalam hidup manusia menghadapi pelbagai bentuk ujian sama ada dalam bentuk musibah/kesusahan dan juga ujian dalam bentuk kesenangan/kemewahan.
Seringkali apabila manusia diuji dengan musibah mereka keluh kesah dan merana. Tapi ketahuilah bahawa di sebalik musbah itu ada hikmah yang sangat besar.
Nabi bersabda :-إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مع عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إذا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رضى فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُErtinya : Sesungguhnya besarnya balasan baik adalah dengan besarnya ujian dan bala (tahap ganjaran adalah setimpal dengan tahap kesukaran mihna’), dan Allah s.w.t apabila kasihkan satu kaum lalu akan didatangkan baginya ujian, sesiapa yang mampu redha maka ia beroleh redha Allah dan barangsiapa yang engkar , maka akan beroleh azab Allah.” ( Riwayat At-Tirmizi, 4/601 ; Tuhfatul Ahwazi, 7/65 ; Albani : Hasan Sohih)Mukmin Tulen Sentiasa Tabah Cciri seorang mukmin tulen sebagaimana kata Nabi s.a.w :-عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُErtinya : Amat dikagumi sifat orang mukmin, iaitu semua urusan yang menimpanya adalah baik, dan tidaklah seorang mukmin itu kecuali apabila di timpa kebaikan, ia bersyukur lalu menjadi kebaikan baginya; dan bila ditimpa musibha keburukan ia bersabar dan menjadi kebaikan baginya apabila ia ditimpa” ( Riwayat Muslim)
Sabar adalah perkataan yang selalu kita ungkapkan. Apabila ada musibah menimpa orang sekeliling kita, dengan mudah kita melafazkan, sabarlah. However, the real test comes when we ourselves are facing such time of trial. Baru ketika itu kita benar-benar menghayati first hand erti sabar yang sebenarnya.Musibah dalam dalam pelbagai bentuk sama ada kehilangan harta, perceraian, menjadi mangsa fitnah, kematian dan sebagainya. Apa erti sebenar sabar? Bagaimana kita boleh memberi definisi yang tuntas terhadap sabar ini. Apakah tanda menunjukkan bahawa seorang itu benar-benar sabar menghadapi ujian itu? Persoalan-persoalan ini sebenarnya tidak mudah diungkapkan; sudah pastinya tidak semudah bila kita menasihatkan orang lain agar bersabar.
Abu Zakaria Ansari berkata, “Sabar merupakan kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang disenanginya maupun yang dibencinya.” Abu Ali Daqaq mengatakan, “Hakikat sabar ialah
keluar dari suatu bencana sebagaimana sebelum terjadi bencana itu.” Dan Imam al-Ghazali mengatakan, “Sabar ialah suatu kondisi jiwa yang terjadi karena dorongan ajaran agama dalam mengendalikan hawa nafsu.”
Dengan demikian, sabar dapat bererti kosisten dalam melaksanakan semua perintah Allah dalam segala keadaan. Berani menghadapi kesulitan dan tabah dalam menghadapi cobaan selama dalam perjuangan untuk mencapai tujuan.
Karena itu, sabar erat hubungannya dengan pengendalian diri, sikap, dan emosi. Apabila seseorang telah mampu mengawal mengendalikan nafsunya, maka sikap/sifat sabar akan tercipta.
Selanjutnya, sabar juga bererti teguh hati tanpa mengeluh, saat ditimpa bencana. Jadi yang dimaksud dengan sabar menurut pengertian Islam ialah rela menerima sesuatu yang tidak disenangi dengan rasa ikhlas serta
berserah diri kepada Allah. Dan dapat pula dikatakan bahwa secara umum sabar itu ialah kemampuan atau daya tahan manusia menguasai sifat destruktif yang terdapat dalam tubuh setiap orang. Jadi, sabar itu
mengandungi unsur perjuangan tidak menyerah dan menerima begitu saja.
Sabar itu membentuk jiwa manusia menjadi kuat dan teguh tatkala menghadapi bencana (musibah). Jiwanya tidak bergoncang, tidak gelisah, tidak panik, tidak hilang keseimbangan, tidak berubah pendirian. Tak ubahnya laksana
batu karang di tengah lautan yang tidak bergeser sedikit pun tatkala dipukul ombak dan gelombang yang bergulung-gulung.
Sifat sabar itu hanya dikurniakan Tuhan kepada manusia, tidak kepada makhluk yang lain. Sebab, di samping manusia mempunyai hawa nafsu, ia juga dianugerahi akal untuk mengendalikan hawa nafsu itu supaya jangan sampai
merosak atau merugikan. Sedang makhluk haiwani hanya diperlengkapi dengan hawa nafsu, tidak mempunyai akal. Oleh sebab itu ia tidak mampu bersikap sabar. Malaikat juga tidak memerlukan sifat sabar, karena ia tidak memiliki
hawa nafsu.
Sirah para anbiya’, ulama kaya dengan kisah-kisah kesabaran insan-insan pilihan Allah (seperti kisah yang diketahui ramai tentang ketabahan nabi Ayyub a.s. tabah menghadapi pelbagai ujian). Bagaimanapun, bagi orang-orang awam (kebanyakan) bilakh kita mengetahui bahawa kita telah mampu dengan izin Allah bersabar menghadapi ujian yang besar. Seorang alim ditanyakan apakah tanda-tanda bahawa seseorang itu telah mencapai tahap kesabaran yang tinggi jawab beliau: apabila hamba Allah tersebut telah sampai ke satu tahap di saat hebatnya musibah di mana kebanyakan orang akan cenderung untuk berkata mampukah lagi aku bersabar? Namun biarpun di saat yang getir sedemikian dia masih mampu reda dan sabar, maka itulah satu tanda dia mencapai tahap kesabaran yang tinggi.
Sama-samalah kita berdoa agar Allah mengurniakan kita dengan sifat yang amat sinonim dengan Mukmin sejati ini, yang begitu mudah dilafazkan lisan namun tidak enteng diterjemahkan dalam kehidupan di saat musibah melanda.
Wallahu ‘a’lam
Di dalam surah al-Mulk, ALlah menyatakan bahawa Dia menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia siapakah di kalangan manusia paling baik amalnya. Dalam hidup manusia menghadapi pelbagai bentuk ujian sama ada dalam bentuk musibah/kesusahan dan juga ujian dalam bentuk kesenangan/kemewahan.
Seringkali apabila manusia diuji dengan musibah mereka keluh kesah dan merana. Tapi ketahuilah bahawa di sebalik musbah itu ada hikmah yang sangat besar.
Nabi bersabda :-إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مع عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إذا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رضى فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُErtinya : Sesungguhnya besarnya balasan baik adalah dengan besarnya ujian dan bala (tahap ganjaran adalah setimpal dengan tahap kesukaran mihna’), dan Allah s.w.t apabila kasihkan satu kaum lalu akan didatangkan baginya ujian, sesiapa yang mampu redha maka ia beroleh redha Allah dan barangsiapa yang engkar , maka akan beroleh azab Allah.” ( Riwayat At-Tirmizi, 4/601 ; Tuhfatul Ahwazi, 7/65 ; Albani : Hasan Sohih)Mukmin Tulen Sentiasa Tabah Cciri seorang mukmin tulen sebagaimana kata Nabi s.a.w :-عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُErtinya : Amat dikagumi sifat orang mukmin, iaitu semua urusan yang menimpanya adalah baik, dan tidaklah seorang mukmin itu kecuali apabila di timpa kebaikan, ia bersyukur lalu menjadi kebaikan baginya; dan bila ditimpa musibha keburukan ia bersabar dan menjadi kebaikan baginya apabila ia ditimpa” ( Riwayat Muslim)
Sabar adalah perkataan yang selalu kita ungkapkan. Apabila ada musibah menimpa orang sekeliling kita, dengan mudah kita melafazkan, sabarlah. However, the real test comes when we ourselves are facing such time of trial. Baru ketika itu kita benar-benar menghayati first hand erti sabar yang sebenarnya.Musibah dalam dalam pelbagai bentuk sama ada kehilangan harta, perceraian, menjadi mangsa fitnah, kematian dan sebagainya. Apa erti sebenar sabar? Bagaimana kita boleh memberi definisi yang tuntas terhadap sabar ini. Apakah tanda menunjukkan bahawa seorang itu benar-benar sabar menghadapi ujian itu? Persoalan-persoalan ini sebenarnya tidak mudah diungkapkan; sudah pastinya tidak semudah bila kita menasihatkan orang lain agar bersabar.
Abu Zakaria Ansari berkata, “Sabar merupakan kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang disenanginya maupun yang dibencinya.” Abu Ali Daqaq mengatakan, “Hakikat sabar ialah
keluar dari suatu bencana sebagaimana sebelum terjadi bencana itu.” Dan Imam al-Ghazali mengatakan, “Sabar ialah suatu kondisi jiwa yang terjadi karena dorongan ajaran agama dalam mengendalikan hawa nafsu.”
Dengan demikian, sabar dapat bererti kosisten dalam melaksanakan semua perintah Allah dalam segala keadaan. Berani menghadapi kesulitan dan tabah dalam menghadapi cobaan selama dalam perjuangan untuk mencapai tujuan.
Karena itu, sabar erat hubungannya dengan pengendalian diri, sikap, dan emosi. Apabila seseorang telah mampu mengawal mengendalikan nafsunya, maka sikap/sifat sabar akan tercipta.
Selanjutnya, sabar juga bererti teguh hati tanpa mengeluh, saat ditimpa bencana. Jadi yang dimaksud dengan sabar menurut pengertian Islam ialah rela menerima sesuatu yang tidak disenangi dengan rasa ikhlas serta
berserah diri kepada Allah. Dan dapat pula dikatakan bahwa secara umum sabar itu ialah kemampuan atau daya tahan manusia menguasai sifat destruktif yang terdapat dalam tubuh setiap orang. Jadi, sabar itu
mengandungi unsur perjuangan tidak menyerah dan menerima begitu saja.
Sabar itu membentuk jiwa manusia menjadi kuat dan teguh tatkala menghadapi bencana (musibah). Jiwanya tidak bergoncang, tidak gelisah, tidak panik, tidak hilang keseimbangan, tidak berubah pendirian. Tak ubahnya laksana
batu karang di tengah lautan yang tidak bergeser sedikit pun tatkala dipukul ombak dan gelombang yang bergulung-gulung.
Sifat sabar itu hanya dikurniakan Tuhan kepada manusia, tidak kepada makhluk yang lain. Sebab, di samping manusia mempunyai hawa nafsu, ia juga dianugerahi akal untuk mengendalikan hawa nafsu itu supaya jangan sampai
merosak atau merugikan. Sedang makhluk haiwani hanya diperlengkapi dengan hawa nafsu, tidak mempunyai akal. Oleh sebab itu ia tidak mampu bersikap sabar. Malaikat juga tidak memerlukan sifat sabar, karena ia tidak memiliki
hawa nafsu.
Sirah para anbiya’, ulama kaya dengan kisah-kisah kesabaran insan-insan pilihan Allah (seperti kisah yang diketahui ramai tentang ketabahan nabi Ayyub a.s. tabah menghadapi pelbagai ujian). Bagaimanapun, bagi orang-orang awam (kebanyakan) bilakh kita mengetahui bahawa kita telah mampu dengan izin Allah bersabar menghadapi ujian yang besar. Seorang alim ditanyakan apakah tanda-tanda bahawa seseorang itu telah mencapai tahap kesabaran yang tinggi jawab beliau: apabila hamba Allah tersebut telah sampai ke satu tahap di saat hebatnya musibah di mana kebanyakan orang akan cenderung untuk berkata mampukah lagi aku bersabar? Namun biarpun di saat yang getir sedemikian dia masih mampu reda dan sabar, maka itulah satu tanda dia mencapai tahap kesabaran yang tinggi.
Sama-samalah kita berdoa agar Allah mengurniakan kita dengan sifat yang amat sinonim dengan Mukmin sejati ini, yang begitu mudah dilafazkan lisan namun tidak enteng diterjemahkan dalam kehidupan di saat musibah melanda.
Wallahu ‘a’lam
Langganan:
Komentar (Atom)